Bukhara Periode Uzbek
Pada tahun 905 H, Bukhara dikuasai oleh orang-orang Uzbek. Kemudian
dipimpin oleh dua amir dari kabilah Syaiban al-Uzbek. Ubaidullah bin
Mahmud dan Abdullah bin Iskandar. Pada masa kepemimpinan mereka berdua,
Bukhara kembali kepada tradisinya. Menjadi pusat perkembangan politik
dan budaya. Demikian juga di masa kepemimpinan dua kabilah berikutnya;
al-Janiyah (Arab: الجانية) dan al-Ostrakhaniyah (Arab: الأستراخانية).
Pada abad ke-10 H atau abad 17-18 M, para pemimpin Uzbek menjalin
hubungan dengan Kekaisaran Rusia. Orang-orang Rusia menyebut semua
orang-orang Asia Tengah atau Turkmenistan Timur dengan orang Bukhara.
Tentu ini mengindikasikan kemasyhuran Kota Bukhara di negara beruang
merah itu.
Masa Khan Abdul Aziz (1055-1091 H/1645-1680 M) adalah akhir dari masa
keemasan Bukhara. Periode berikutnya adalah masa kemunduran dan
perpecahan. Mereka terpecah-pecah hingga banyak sekali para amir di
Bukhara dengan wilayah kekuasaan yang kecil.
Masa Penjajahan Rusia
Pada tahun 1153 H/1740 M, Bukhara dikuasai oleh Nadir Syah, raja
Kerajaan Syiah Shafawi. Kekuasaan Shafawi atas Bukhara tidak berlangsung
lama. Wilayah itu merdeka dari Shafawi setelah Nadir Syah wafat dan
munculnya keluarga al-Manikitiya (Arab: المانگيتية). Dengan Muhammad
Rahim Khan sebagai Khan pada tahun 1170 H. Kemudian ia mengembalikan
identitas Bukhara sebagai kota Islam dan syariat.
Pada masa al-Amir Muzhaffaruddin Syah (1277-1302 H/ 1885-1860 M)
pengaruh Rusia kian mencengkram negeri-negeri seberang sungai. Hal itu
memaksa al-Amir Muzhaffaruddin menyerahkan sebagian wilayahnya kepada
Rusia. Pada akhir abad ke-19 M, Rusia mulai mendirikan bangungan dan
fasilitas modern di dekat wilayah Bukhara. Bahkan mereka menamainya
pinggiran Bukhara itu dengan nama Bukhara modern.
Kemudian pada tahun 1302-1328 H/1885-1910 H, Abdul Ahad Khan
memerintah Bukhara. Di masanya, ekonomi Bukhara mengalami peninggakatan.
Kota budaya ini bertransformasi menjadi kota industri. Produksi besi,
emas, dan wol menarik para investor dan para tenga kerja. Berkah yang
didapatkan Bukhara, tidak lupa disumbangkan oleh Abdul Ahad Khan untuk
pembangunan tanah suci Mekah dan Madinah.
Di tengah dominasi Rusia di wilayah-wilayah tetangga, Abdul Ahad Khan
berusaha keras mempertahankan Bukhara sebagai wilayah Islam. Ia
menjadikan tanah bersejarah ini sebagai wilayah yang independen sejak
1887 hingga 1920 M. saat itu, Rusia bahkan Inggris telah memasuki
wilayah Afghanistan.
Setelah Amir Abdul Ahad Khan, anaknya Amir Alim Khan menggantikannya
pada tahun 1328 H/1910 M. Ia berkuasa di Bukhara hingga tahun 1340
H/1922 M. Setelah itu, Rusia berkuasa penuh atas Bukhara. Hingga
kemudian Rusia membagi-bagi wilayah Asia Tengah berdasarkan sukunya
masing-masing; Tajikistan, Uzbekistan, Turkmenistan, Kazakhstan,
Kirgistan. Inilah tabiat kolonialisme. Membuat sekat dan garis batas
rumpun yang sama. Adapun Bukhara, kota legendaris ini menjadi salah satu
kota penting di wilayah Uzbekistan.
Masa pemerintahan komunis Rusia termasuk periode buruk bagi
perkembangan Islam di Bukhara. Komunis tidak segan melakukan pelanggaran
bahkan kekerasan untuk memaksakan doktrinnya. Para muslimah Bukhara
dipaksa melepas jilbab-jilbab mereka. Dua puluhan ribu masjid yang ada
di Uzbek ditutup oleh Stalin. Bahkan sebagiannya dijadikan gudang.
Hingga saat Uzbekistan merdeka, tak sampai seratus masjid yang tersisa.
Bukhara Era Modern
Uzbekistan merdeka dari kekuasaan Rusia pada tanggal 31 Agustus 1991.
Sejak saat itu, bangsa Tajik ini mulai mengurangi pengaruh Rusia yang
sudah larut di masyaratkat. Sedikit demi sedikit nilai-nilai islami
dimunculkan. Namun karena sudah begitu lama, orang-orang Uzbek pun sudah
lupa akan Islam.
Bercerita tentang Bukhara, Uzbekistan, atau bahkan Asia Tengah secara
umum di era modern, tentu jauh berbeda dibanding masa lalunya.
Seolah-olah ada loncatan budaya dan paradigma. Dulu.. Asia Tengah
memiliki peradaban yang tinggi. Menjadi pusat politik. Tempat
berkumpulnya para sastrawan dan ulama. Serta menjadi pusat kajian Islam.
Dulu.. Bahasa Arab, Persia, dan Turki terdengar dimana-mana. Dulu..
puisi dan sastra yang tinggi lahir di sini. Kesusastraan menjadi
kebanggaan. Membedakan mereka dari gembala nomad di padang rumput.
Lain dulu, lain sekarang. Sekarang ceritanya jauh berbeda. Sekarang
bahasa Rusia adalah bahasa pemersatu. Tradisi Islam terputus oleh
puluhan tahun pemerintahan komunis. Shalat, puasa, huruf-huruf Arab,
azan, begitu jauh dari banyak penduduk yang mengaku muslim di sini. Di
Kota Bukhara ini. Umumnya muslim Asia Tengah tidak pernah berpuasa.
Mereka juga jarang terlihat shalat. Praktik Islam hanya dilakukan oleh
kalangan tua atau beberapa orang saja dari mereka. Seabad lebih
kekuasaan komunis di negeri ini, benar-benar membuat cahaya Islam hampir
padam dan tenggelam. Orang-orang Uzbek akan begitu kagum keheranan
ketika ada seseorang yang menyapa dengan ‘asslamualaikum’. Karena sapaan
itu sudah lama berganti dengan kata ‘halo’.
Peninggalan Islam di Bukhara
Peninggalan Islam di Bukhara masih cukup banyak. Lebih dari 140 situs
sejarah Islam ada di sana –itu setelah banyak dihancurkan oleh Mongol
dan komunis Rusia-. Di antaranya adalah:
– Masjid dan Menara Kalon atau Kaylan
Masjid ini dibangun oleh Arslan Khan pada tahun 1121 M. Saat Jenghis
Khan memasuki Bukhara, ia membakar masjid dan membiarkan menaranya tetap
utuh. Dikisahkan lebih dari 30.000 orang dibantai di Bukhara. Kepala
manusia hingga membentuk piramida. Namun di depan Menara Kalon, Jenghis
Khan terpekur. Menara ini ia biarkan sebagai pertanda penghormatannya
akan kehebatan bangunan tersebut. Pada masa berikutnya Masjid Kalon
dibangun kembali. Sehingga tampak perbedaan umur antara Menara Kalon dan
Masjid Kalon. Kalau menaranya berusia hampir 1000 tahun, maka masjidnya
baru berusia kira-kira 500-an tahun.
– Kubah Samani: Kubah ini dibangun oleh Ismail as-Samani pada tahun 892 M.
– Gerbang selatan salah satu Masjid Bukhara yang dibangun di abad ke-6 H oleh orang-orang al-Qarakhani (Arab: القراخانيون).
– Masjid Namazkah (Arab: نمازكاه) dibangun pada abad ke-6 H.
– Masjid Biland (Arab: بلند) yang dibangun pada abad ke-16 M
Ulama dan Tokoh Bukhara
Kota pusat studi keislaman ini melahirkan banyak ulama dan tokoh besar dalam sejarah. Di antaranya adalah:
Dari kalangan ulama yang masyhur adalah Ishaq bin Rahawaih dan Imam
al-Bukhari. Jika dimasukkan tokoh-tokoh sejarah secara umum, maka
seorang ilmuan terkenal Abu Ali al-Husein bin Abdullah bin Sina. Atau
yang lebih dikenal dengan Ibnu Sina. Juga lahir dari peradaban Bukhara.
Di wilayah Uzbekistan lainnya, daerah Khawarizm, dikenal seorang ilmuan matematika yang bernama Abu Abdullah Muḥammad bin Musa al-Khwarizmi. Atau dalam bahasa latin dikenal dengan Algoritmi.
Kata Mereka Tentang Bukhara
– Masa Lalu:
Yaqut al-Hamawi mengatakan, “Tidak ada wilayah di seberang sungai dan
Khurasan, sebuah daerah yang penduduknya paling tinggi peradabannya
dibanding wilayah Bukhara. Penduduknya banyak dan merata. Hal ini hanya
dimiliki oleh Bukhara…”
Yaqut menukil perkataan penulis ash-Shur, “Adapun yang paling
istimewa di negeri seberang sungai, aku tidak pernah melihat, tidak juga
sampai berita kepadaku di masa Islam, sebuah wilayah yang paling bagus
di Khurasan kecuali Bukhara. Jika engkau naik ke tempat yang tinggi lalu
melihat ke sudut manapun, yang engkau lihat hanyalah peradaban yang
tinggi…” (Mu’jam al-Buldan oleh Yaqut al-Hamawi, 1/353).
– Masa Kini:
Keadaan ekonomi Uzbekistan termasuk Bukhara benar-benar dalam keadaa
terpuruk. Ekonomi tidak karuan. Jumlah pengangguran terus melonjak. Dan
hidup semakin susah. Mata uangnya benar-benar tidak berharga.
Sampai-sampai Murtie Djuffan, salah seorang konsuler KBRI, mengatakan,
“(Di Uzbekistan) Orang Jawa bilang, wong mati kabotan duit1.
Di sini, orang bisa mati sungguhan karena keberatan duit. Di Uzbek, mau
belanja tiket pesawat untuk sekeluarga, bawa uang satu kardus gede
–karena mata uangnya tidak berharga-, terus jatuh, menimpa badan… mati.”
Agustinus Wibowo, seorang traveler di wilayah-wilayah Asia Tengah,
mengatakan, “Hampir serratus tahun berada di bawah rezim komunis dan
sekuler, karakter Islam di Uzbekistan banyak berubah. Madrasah menjadi
museum atau toko. Masjid menjadi tempat wisata. Pasangan muda-mudi asyik
bergandengan dan berpelukan menikmati arsitektur Islam… …kini
gadis-gadis Tajik dan Uzbek berpakaian trendi ala Barat, mengenakan rok
mini, hak tinggi dan stoking tembus pandang, bergandeng tangan dan
menari dengan lelaki idaman hati. Tak jauh dari Masjid Bukhara juga
dibangun diskotik bawah tanah, dimiliki oleh anggota keluarga presiden
Islam Karimov –nama yang juga mengandung kata Islam-.”
Sebenarnya Bukhara atau Uzbekistan bukanlah sebuah wilayah yang serba
kekurangan apabila dilihat dari sumber daya alamnya. Mereka memiliki
hasil bumi seperti emas dan besi. Namun keberkahan itu hilang dengan
sedikitnya syukur. Allah ﷻ timpakan musibah dengan penguasa-penguasa
yang buruk karena dosa-dosa yang mereka perbuat. Kemudian keadaan mereka
semakin buruk dengan tersebarnya akhlak-akhlak yang rendah.
Pelajaran
- Masuknya Islam ke suatu daerah berdampak besar terhadap kemajuan wilayah tersebut.
- Ketika Islam yang murni diterapkan, maka ia akan membawa keberkahan kepada penduduk dan daerahnya.
- Komunisme sangat buruk pengaruhnya terhadap Islam dan kaum muslimin bahkan lebih buruk dari demokrasi liberal.
- Umat Islam wajib bersyukur dengan nikmat Islam; mengimaninya dengan hati, mendakwahkannya, dan menerapkannya dalam amalan. Ketika mereka kufur, maka Allah ganti kemuliaan mereka dengan kehinaan dan keterpurukan.
- Umat Islam hendaknya mengambil pelajaran dari sejarah mereka. Berpegang teguh dengan Islam bukanlah kemunduran. Justru jauh dari Islam-lah yang akan mendatangkan kemunduran.
Ket:
1. Ungkapan ini biasa digunakan untuk menggambarkan orang yang sangat kaya namun pelit, akhirnya ia mati tertimpa atau terkubur uang sendiri.
1. Ungkapan ini biasa digunakan untuk menggambarkan orang yang sangat kaya namun pelit, akhirnya ia mati tertimpa atau terkubur uang sendiri.
Sumber:
– Wibowo, Agustinus. 2012. Garis Batas; Perjalanan di Negeri-Negeri Asia Tengah. Jakarta: Gramedia.
– bukhariyon.wordpress.com
– islamstroy.com/ar
– Wibowo, Agustinus. 2012. Garis Batas; Perjalanan di Negeri-Negeri Asia Tengah. Jakarta: Gramedia.
– bukhariyon.wordpress.com
– islamstroy.com/ar



0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !